Rumah yang Belum Kami Tinggali
Awal agustus pukul enam empat puluh pagi saya mengantar anak sekolah, lalu kembali ke kamar kos, melihat tumpukan buku yang sama, tumpukan baju yang sama, piring dan gelas kotor yang sama.
Apa yang terjadi dalam 11 hari?
Hari-hari yang sama seperti sebelum sebelas hari itu dimulai.
Hidup tetap berjalan melalui jalur yang sudah ada. Saya tetap bangun, bekerja, mengurus anak, menerima gaji, menghitung kebutuhan. Saldo di rekening tidak mendadak jadi puluhan juta hanya karena saya memutuskan waktu harus dipadatkan. Tidak ada kejadian besar yang membelah hidup menjadi sebelum dan sesudah.
Satu jam sebelum berangkat kerja saya menangis, menangis saja saat duduk di lantai.
Entah karena uang 50 juta tidak datang, entah karena hal lain yang tidak saya pahami sepenuhnya.
Selama tujuh tahun angka itu menemani hidup saya, melewati pernikahan yang berakhir, perpisahan dengan anak, uang 50 juta yang habis menjadi dua tahun lima bulan waktu, perpindahan ke Solo, pekerjaan dengan gaji kecil, anak yang kembali bersama saya, dan malam-malam ketika saya tetap membacakan cerita sebelum tidur, tetap mempercayai bahwa hidup saya suatu hari akan membaik.
Malam hari sepulang kerja saya melihat rumah itu. Dua kamar berukuran 2,5x3 meter. Satu dapur kecil. Satu kamar mandi. Satu ruang tamu. Rumah sewa biasa seperti rumah lama saya di Bekasi, rumah KPR bersubsidi yang telah terjual 50 juta, yang dirobohkan pemilik barunya sebulan setelah saya meninggalkannya. Saya tidak pernah melihat robohnya, pembangunan ulangnya, dan juga bentuk barunya.
Rumah itu benar-benar menghilang dari dunia. Juga kehidupan lama saya.
Sekarang saya berdiri di ruang tamu yang masih kosong. Saya seolah melihat rak buku. Rak lego. Meja kerja. Rekan kerja saya menunjuk ke arah teras. “Di situ bisa buat ngajar les,” katanya. Saya belum pernah memikirkan itu.
Anak rekan kerja saya mengajak anak saya bermain bersama anak-anak lain di lingkungan itu. Saat saya tanya, dia bilang rumahnya lumayan. Dia tampaknya lebih menyukai teman-teman baru yang dia temui. Bermain. Berlari. Hal yang tidak pernah dilakukannya selama tujuh bulan pertama tinggal di Solo, di kamar kos.
Dalam perjalanan pulang saya bertanya, jika ternyata uang ibu belum cukup untuk pindah, apakah kamu akan kecewa?
Ia mengangguk. Lalu menangis.
Ia mungkin sudah membayangkan hidup di sana. Bisa bermain. Bisa berteman. Sementara saya membayangkan hal yang berbeda. Cara memperkenalkan diri kepada tetangga baru. Pertanyaan-pertanyaan yang hampir selalu muncul. Kehidupan bertetangga yang pernah begitu melelahkan hingga saya sempat mengira hidup menyendiri jauh lebih sederhana.
Barangkali saya tidak sepenuhnya tahu bagaimana membesarkan anak lelaki seorang diri.
Lalu apa sebenarnya yang sedang saya uji?
🌿