Alang-Alang

Satu Tahun di Tanah Baru

Genap satu tahun saya tinggal di Solo. Kota asing yang saya datangi tanpa pekerjaan, tanpa kenalan, tanpa keluarga yang bisa saya mintai pertolongan jika semuanya gagal. Saya bahkan tidak tahu dengan pasti bagaimana akan bertahan.

Saya mendapatkan pekerjaan di hari ke tujuh belas, menjemput anak di bulan ke enam, dan beberapa hari lalu kami pindah dari kamar kos ke rumah sewa.

Kami bisa menempati rumah ini dengan cara paling biasa dan agak menakutkan: berutang.

Saya masuk melalui pintu itu dengan membawa seorang anak, beberapa barang, dan sejumlah kewajiban yang harus saya lunasi sedikit demi sedikit.

Hari ini, di usia 39 tahun, setelah pergi begitu jauh dari tanah lama, sebenarnya ke mana hendak saya bawa diri saya sendiri dan anak?

Saya membayangkan di tanah baru, hidup saya menjadi jauh lebih sederhana; lari pagi, mengurus anak, mengurus rumah, menulis, berdiri sore hari di halaman belakang memandangi tomat dan cabai yang menggantung merah pada dahan, membacakan cerita sebelum tidur.

Tadi malam kisah Ramayana yang saya bacakan sudah sampai pada bab kematian Kumbakarna. Tiga bab berikutnya cerita berakhir. Semula saya dan anak memperkirakan baru akan selesai membaca epos tebal itu selama satu tahun. Rupanya jauh lebih cepat. Empat bulan.

Saat saya membaca, anak saya kadang berbaring meringkuk seperti udang, kadang nungging, kadang mengangkat kaki ke atas bersandar pada tembok sementara kepalanya di bawah, dan semuanya tampak seperti tidak mendengarkan cerita saya. Tetapi suatu sore, ketika kami mengobrol santai, ia ingat bahwa Destarata adalah ayah Pandawa dan Dasarata adalah ayah Rama. Begitu pula dengan tokoh-tokoh lain yang kadang kami bicarakan.

Moby Dick menjadi cerita selanjutnya yang akan saya baca. Ia yang meminta sendiri, cerita yang dicatut di komik Bone dan yang disebut oleh Matilda.

Ada kalanya di malam-malam tertentu saya menolak membaca karena lelah, saya membaca sambil mengantuk, dan ia marah, memaksa saya harus tetap membaca beberapa halaman lagi. Jari-jarinya menarik kedua kelopak mata saya supaya tetap terbuka. Saya membentaknya dan menyuruhnya membaca sendiri. Sementara dia merengut, saya jatuh tertidur selama 5 sampai 10 menit, lalu bangun dan meminta maaf. Kami mengobrol. Saya mengelus kepalanya sampai ia tidur. Saya baru bisa tidur lagi setelah lewat tengah malam.

Beberapa hal yang saya bayangkan terwujud. Kebun kecil tomat dan cabai belum. Uang juga belum.

Selama tujuh tahun saya menuliskan angka-angka besar. Lima miliar. Lima ratus juta. Lalu lima puluh juta. Saya menuliskannya di buku catatan, juga di selembar kertas yang saya tempelkan di tembok. Beberapa kali saya membayangkan uang turun memenuhi kamar, memenuhi tas, lalu saya menghitungnya.

Membayangkan uang hampir selalu saya lakukan dengan sengaja. Saya memfokuskan pikiran pada bentuknya, warnanya, aromanya, jumlahnya.

Sementara ketika terdiam sebentar saat kelelahan bekerja, atau saat saya terjaga sampai larut malam, yang berbaris di kepala saya adalah kalimat, dan saya mendambakan lebih banyak waktu luang untuk menuliskannya.

Dalam cerita yang saya tulis, Bukan Malin Kundang misalnya, Lio memang menemukan harta karun dan menjadi kaya. Tetapi saya tidak tertarik menceritakan hartanya. Saya lebih tertarik menceritakan kepulangannya, ibunya, lalu kepergiannya kembali.

Dalam dongeng-dongeng Induk Singa, saya lebih sering menulis tentang rumah, hutan, anak, makanan, perjalanan, janji, dan kehidupan yang aman.

Bahkan ketika saya menulis Sebelum Pagi, ketika saya bebas membawa diri saya ke mana saja, saya malah menulis:

tempat perempuan boleh tidur siang dan menulis puisi.

Apakah sebenarnya saya tidak menginginkan uang?

Tentu tidak sesederhana itu. Sewa rumah harus dibayar. Makanan harus dibeli. Sekolah membutuhkan biaya. Internet, listrik, kesehatan, tabungan, keadaan darurat, semuanya ⁠membutuhkan uang.

Barangkali selama ini saya keliru mengira bahwa uang adalah tujuan.

Mungkin uang hanya jalan menuju kehidupan yang saya inginkan.

**

Saya ternyata tidak pernah menginginkan kehidupan yang besar.

Saya hanya ingin satu anak. Sejak melahirkannya saya sudah tahu satu anak cukup.

Saya senang mengurus rumah, menjadi ibu, menulis.

Yang tidak menyenangkan adalah hidup sebagai perempuan yang seluruh keberadaannya didefinisikan oleh kewajiban melayani suami.

Barangkali dulu saya belum mampu membedakan keduanya.

Sekarang saya tahu, yang saya inginkan sebenarnya bukan sekadar seorang suami, melainkan teman seperjalanan: dua orang dewasa yang menjalani hari bersama, membesarkan satu anak, berbagi pekerjaan, saling menolong ketika salah satunya lelah, dan masing-masing tetap menjadi dirinya sendiri.

Ia boleh bekerja di luar rumah, saya boleh lebih banyak mengurus rumah. Ia membawa pulang penghasilan, saya mengubahnya menjadi kehidupan di dalam rumah. Tetapi kami bukan atasan dan bawahan. Tidak ada seorang dewasa yang harus dilayani oleh orang dewasa lainnya.

Saya tidak membutuhkan kehidupan sosial yang ramai. Saya lebih senang rumah yang tenang, buku, tulisan, halaman kecil, tanaman yang tumbuh, dan sore yang panjang.

Setelah bertahun-tahun hidup sendiri, saya akhirnya bisa melihatnya dengan lebih jernih: yang saya rindukan bukan menjadi istri seseorang. Saya merindukan sebuah kehidupan yang bisa saya jalani dengan utuh. Satu anak. Sebuah rumah.

Saya teringat rumah yang pernah saya tempati pada tahun-tahun awal pernikahan. Ada kebun kecil yang ditanami cabai di samping rumah, di tanah hook seluas 3x10 meter. Itu rumah pertama yang kami beli, lalu dijual, barulah setelah itu kami menempati rumah yang lebih kecil yang akhirnya terjual hanya 50 juta.

Pada sore hari di masa itu, saya sering duduk di atas batu besar, memandangi cabai, memandangi rumput liar. Ada kepuasan aneh memandangi semua itu.

Rumput tumbuh menjadi rumput.

Cabai tumbuh menjadi cabai.

Saat itu saya sepenuhnya menjadi istri dan ibu. Saya tidak pernah membayangkan uang. Suami saya masih bekerja di pabrik ban dan hidup kami berkecukupan.

Lalu suami saya kena PHK. Lalu datang pandemi corona. Lalu perselingkuhan, perceraian, perisakan.

Empat tahun sebelum perkawinan kami akhirnya runtuh, saya mulai membayangkan uang. Sejumlah besar uang yang mungkin bisa memberi saya kebebasan untuk kembali menjalani hidup yang sederhana tanpa terus-menerus takut apakah esok anak saya bisa makan.

Dan ketika saya membayangkan masa depan secara spontan, uang hampir tidak pernah muncul. Imajinasi saya selalu kembali ke rumah. Anak. Kebun. Buku. Menulis. Tidur siang. Sore yang panjang. Cerita sebelum tidur. Dan waktu.

Terutama waktu.

Saya bisa membiarkan satu hari berlalu tanpa merasa bahwa setiap jam yang tidak menghasilkan uang adalah sebuah kesalahan.

**

Saya sering terbangun tengah malam dengan kalimat yang berbaris di dalam pikiran. Kadang saya tidur lagi. Pagi harinya saya membuat kopi. Setelah beberapa tegukan, kalimat itu kembali.

Saya duduk agak lama untuk mengingat sampai sebuah cerita mulai terbentuk. Lalu jam menunjukkan pukul delapan. Saya harus bekerja.

Kalimat itu belum selesai. Saya juga belum selesai memikirkannya. Tetapi saya harus pergi. Hal itulah yang membuat saya menginginkan kehidupan berbeda; memiliki waktu yang tidak terus-menerus dipotong.

Saya ingin suatu pagi ketika pukul delapan datang, saya tidak perlu berdiri. Saya bisa tetap duduk. Saya bisa membuat kopi lagi. Saya bisa membuka tulisan kemarin. Menghapus satu paragraf. Menulis dua kalimat. Membiarkannya mengendap. Meninggalkannya sebentar.

Kembali lagi besok.

Kelinci dan Macan tidak selesai dalam satu malam. Selama beberapa hari, cerita lama itu—dongeng yang dulu membuat anak saya mau belajar membaca—berputar kembali di kepala saya sebelum menjadi tulisan.

Ada bagian yang perlu saya ubah. Ada kalimat yang harus dibuang. Ada sesuatu yang baru terasa benar setelah saya membiarkannya diam beberapa hari.

Saya ingin menulis lebih banyak cerita seperti itu. Dongeng-dongeng kecil. Buku-buku tipis.

Cerita yang bisa dibaca anak saya sekarang dan mungkin masih berarti ketika ia sudah dewasa. Saya ingin menulis karena memang ada sesuatu dalam diri saya yang terus mendorong saya untuk menulis.

Bukan sekadar karena saya ingin menjadi penulis. Saya memang ingin menulis.

Apa yang akan saya lakukan pada tahun kedua di tanah baru?

🌿